Timnas Panjat Tebing Indonesia berhasil membawa pulang satu medali perunggu dalam World Climbing Series Wujiang, Tiongkok, Minggu (10/5). Medali itu dipersembahkan Desak Made Rita Kusuma Dewi dari nomor speed putri.
Perjalanannya dalam meraih perunggu bisa terbilang tak mulus. Dalam putaran final, di babak 16 besar Desak Made menghadapi Rajiah Salsabillah yang merupakan rekan satu tim. Desak Made unggul dengan catatan waktu 6,36 detik, sedangkan Rajiah 6,53 detik.
Dalam babak delapan besar Desak Made berhadapan dengan atlet Amerika Serikat Isis Rothfork. Desak Made unggul sejak start. Namun, ia sempat kehilangan momentum ketika mendekati garis finis. Beruntung Desak Made mampu unggul dengan catatan waktu 7,61 detik.
Di babak empat besar, Desak Made menghadapi atlet Polandia Aleksandra Kalucka. Desak Made harus mengakui keunggulan lawannya. Desak Made mencatatkan waktu 6,33 detik, sedangkan Aleksandra 6,09 detik.
Desak Made pun berebut perunggu dengan Natalia Kalucka dari Polandia. Desak Made mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya. Ia pun berhasil unggul dengan catatan waktu 6,17 detik sedangkan lawannya 6,38 detik.
Sementara itu, medali emas diraih Aleksandra Kalucka dari Polandia, sedangkan medali perak diraih Elizaveta Ivanova dari Atlet Netral Perorangan (AIN).
Desak Made mengaku kurang puas dengan hasil yang ia raih dalam seri ini. Ia menyadari seharusnya bisa tampil lebih baik lagi.
“Ini bukan hasil terbaik. Tapi, apa pun harus saya syukuri dan jadi bahan evaluasi,” ungkap dia.
Di nomor putra, sayangnya tim Indonesia belum berhasil memboyong satu medali pun. Dalam putaran final, Raharjati Nursamsa langsung bertemu dengan rekan senegara yakni Kiromal Katibin di 16 besar. Kedua atlet menunjukkan persaingan yang sengit. Namun, Raharjati berhasil unggul dengan catatan waktu 4,77 detik, sedangkan Kiromal Katibin gagal menyentuh finishing pad.
Sayang sekali, langkah Raharjati terhenti di babak delapan besar saat menghadapi Long Jianguo dari Tiongkok. Raharjati fall setelah terpeleset di dekat garis finis.
Nasib serupa dialami Veddriq Leonardo. Ia berhasil melaju ke delapan besar setelah mengalahkan Hryhorii Ilchyshyn dari Ukraina. Sayangnya, Veddriq mengalami fall saat sudah mendekati garis finis ketika menghadapi Samuel Watson dari Amerika Serikat.
Sementara, langkah Aditya Tri Syahria harus terhenti di 16 besar setelah gagal mengalahkan Aphiwit Limpanichpakdee dari Thailand. Aditya sempat kehilangan momentum dan hampir terpeleset di dekat garis finis. Ia hanya mampu mencatatkan waktu 7,00 detik.
Di nomor putra, medali emas diraih Zhao Yicheng dari Tiongkok, perak diraih Long Jianguo dari Tiongkok, dan perunggu diraih Samuel Watson dari Amerika Serikat.
Melihat hasil ini, tim pelatih mengaku akan terus melakukan pembenahan. World Climbing Series di Wujiang ini dinilai benar-benar membuka mata aspek mana saja yang menjadi pekerjaan rumah dan harus dibenahi.
Asisten Pelatih Speed Fitriyani mengatakan seri Wujiang memberikan gambaran jelas peta persaingan yang semakin ketat di nomor speed. “Kami akan terus berbenah karena seri Wujiang ini benar-benar memberi gambaran tentang pekerjaan rumah kami di Pelatnas,” ungkap dia.








